Jumat, 31 Oktober 2014
Shirley Samaun: PENGANTAR EKONOMI MIKRO
Shirley Samaun: PENGANTAR EKONOMI MIKRO: RANGKUMAN MATERI SEMESTER 1 PENGANTAR TEORI EKONOMI MIKRO UNIVERSITAS VICTORY SORONG TAHUN AJARAN 2014-2015 1. ...
PENGANTAR EKONOMI MIKRO
RANGKUMAN MATERI SEMESTER 1
PENGANTAR TEORI EKONOMI MIKRO
UNIVERSITAS VICTORY SORONG
TAHUN AJARAN 2014-2015
1. KONSEP DASAR TEORI
EKONOMI
1.1 Kedudukan teori
ekonomi mikro dalam kerangka ilmu ekonomi
ekonomi mikro dalam kerangka ilmu ekonomi
Masalah ekonomi timbul sebagai adanya berbagai jumlah dan ragam kebutuhan manusia yang sangat banyak, dan alat pemuas kebutuhan sangat relative dibandingkan dengan kebutuhan manusia tersebut.
Dari jaman pra sejarah sampai jaman modern saat ini belum pernah ditemukan suatu masyarakat atau suatu bangsa yang kebutuhan hidupnya telah dapat terpenuhi seluruhnya.
Dengan semakin majunya peradaban manusia , manusia semakin cerdas dan semakin banyak alat capital yang mereka miliki. Yang semua ini menigkatkan kemampuan mereka dalam menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang selanjutnya digunakan oleh mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka.Akan tetapi meningkatnya kemampuan ini hampir senantiasa diikuti bahkan didahului oleh timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru.Peningkatan ini sedemikian pesatnya sehingga bangsa yang paling maju sekalipun masih pula merasakan keterbatasan mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka yang semakin beragam.Menghadapi kenyataan ini maka manusia bertendensi untuk bersikap rasional. Yaitu sepanjang mereka mempunyai pilihan , mereka akan memilih pilihan yang mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya dari alat pemuas kebutuhan tertentu. Atau memilih pilihan yang menurut perhitungan mereka memerlukan korban yang paling kecil diantara pilihan-pilihan lain untuk maksud pemenuhan kebutuhan tertentu.
Ilmu yang mempelajari bagaimana manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhannya mengadakan pemilihan di antara berbagai alternative pemakaian atas alat-alat pemuas kebutuhan yang tersedianya relative terbatas inilah yang kita sebut ilmu ekonomi pemuas atau economics.
Masalah ekonomi timbul sebagai adanya berbagai jumlah dan ragam kebutuhan manusia yang sangat banyak, dan alat pemuas kebutuhan sangat relative dibandingkan dengan kebutuhan manusia tersebut.
Dari jaman pra sejarah sampai jaman modern saat ini belum pernah ditemukan suatu masyarakat atau suatu bangsa yang kebutuhan hidupnya telah dapat terpenuhi seluruhnya.
Dengan semakin majunya peradaban manusia , manusia semakin cerdas dan semakin banyak alat capital yang mereka miliki. Yang semua ini menigkatkan kemampuan mereka dalam menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang selanjutnya digunakan oleh mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka.Akan tetapi meningkatnya kemampuan ini hampir senantiasa diikuti bahkan didahului oleh timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru.Peningkatan ini sedemikian pesatnya sehingga bangsa yang paling maju sekalipun masih pula merasakan keterbatasan mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka yang semakin beragam.Menghadapi kenyataan ini maka manusia bertendensi untuk bersikap rasional. Yaitu sepanjang mereka mempunyai pilihan , mereka akan memilih pilihan yang mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya dari alat pemuas kebutuhan tertentu. Atau memilih pilihan yang menurut perhitungan mereka memerlukan korban yang paling kecil diantara pilihan-pilihan lain untuk maksud pemenuhan kebutuhan tertentu.
Ilmu yang mempelajari bagaimana manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhannya mengadakan pemilihan di antara berbagai alternative pemakaian atas alat-alat pemuas kebutuhan yang tersedianya relative terbatas inilah yang kita sebut ilmu ekonomi pemuas atau economics.
EKONOMI MIKRO DALAM KERANGKA ILMU EKONOMI
Ilmu Ekonomi dibagi dalam 3 kelompok Dasar.Yaitu :
– Ekonomi deskriptif : Mengumpulkan keterangan-keterangan factual yang relevan mengenai suatu masalah ekonomi.
– Teori Ekonomi : Bisa disebut economi theory atau economic principal, yang terbagi lagi atas 2 kelompok besar yaitu teory ekonomi mikro dan teory ekonomi makro yang tugasnya menerangkan secara umum perilaku system perekonomian . Bila materi pembahasannya tentang pelaku-pelaku ekonomi yang berada dalam system perekonomian, maka masuk kategory teori ekonomi Mikro, sedangkan bila pembahasan tentang mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan maka akan masuk pada kategori ekonomi Makro.
– Ekonomi Terapan : Menggunakan hasil-hasil pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk menerangkan keterangan keterangan yang dikumpulka oleh ekonomi deskriptif. Dengan menggunakan kerangka penggolongan ilmu ekonomi tersebut, dapatlah dikatakan bahwa materi yang disajikan dalam bahasan ini kalau dilihat isinya dapat dimasukkan ke dalam kelompok teori ekonomi mikro, yang lazim disebut teori harga atau price teori atau ekonomi mikro atau micro economic.
Ilmu Ekonomi dibagi dalam 3 kelompok Dasar.Yaitu :
– Ekonomi deskriptif : Mengumpulkan keterangan-keterangan factual yang relevan mengenai suatu masalah ekonomi.
– Teori Ekonomi : Bisa disebut economi theory atau economic principal, yang terbagi lagi atas 2 kelompok besar yaitu teory ekonomi mikro dan teory ekonomi makro yang tugasnya menerangkan secara umum perilaku system perekonomian . Bila materi pembahasannya tentang pelaku-pelaku ekonomi yang berada dalam system perekonomian, maka masuk kategory teori ekonomi Mikro, sedangkan bila pembahasan tentang mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan maka akan masuk pada kategori ekonomi Makro.
– Ekonomi Terapan : Menggunakan hasil-hasil pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk menerangkan keterangan keterangan yang dikumpulka oleh ekonomi deskriptif. Dengan menggunakan kerangka penggolongan ilmu ekonomi tersebut, dapatlah dikatakan bahwa materi yang disajikan dalam bahasan ini kalau dilihat isinya dapat dimasukkan ke dalam kelompok teori ekonomi mikro, yang lazim disebut teori harga atau price teori atau ekonomi mikro atau micro economic.
1.2 Ruang lingkup teori ekonomi mikro
Ilmu ekonomi mikro adalah suatu cabang
ilmu ekonomi yang mempelajari kegiatan-kegiatan ekonomi secara individual
(unit-unit) atau bagian-bagian kecil dari masalah-masalah ekonomi atau secara
disagregat.Seperti misalnya kehidupan/kegiatan suatu perusahaan, tingkat harga
dan upah, alokasi factor-faktor produksi, dan sebagainya.
Jadi ilmu ekonomi mikro lebih mempelajari secara spesifik terhadap unit-unit dalam kegiatan ekonomi dan apa yang terjadi pada kehidupan ekonomi yang berlangsung.
Pendekatan teori ekonomi mikro menggunakan model-model abstrak di dalam melihat bagaimana terbentuknya harga dari suatu benda dan bagaimana sumber daya yang tersedia dialokasikan kepada berbagai macam penggunaan produksi untuk masyarakat.
Fungsi teori ekonomi mikro adalah hanya bersifat menerangkan dan dapat digunakan sebagai dasar untuk peramalan, dimana kita dimungkinkan untuk membut suatu peramalan yang bersifat kondisional atau ramalan yang besyarat, dimana syaratnya adalah adanya suatu ASUMSI.
Suatu model yang paling sempurna dalam teori ekonomi mikro adalah model penawaran dan model permintaan, dimana melalui penggunaan model ini maka ramalan yang bersifat kondisional dapat dibuat. Misalnya, dapat dikatakan bahwa bila kurva permintaan mempunyai kemiringan yang negatif dan kurva penawaran mempunyai kemiringan yang positif, maka dengan naiknya harga di atas harga keseimbangan akan menciptakan adanya kelebihan barang di pasar, dan sebaliknya.
Teori ekonomi mikro dapat juga diterapkan pada kebijaksanaan perekonomian, yakni dengan menggunakan teori harga untuk menganalisa tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempengaruhi perekonomian.
Jadi ilmu ekonomi mikro lebih mempelajari secara spesifik terhadap unit-unit dalam kegiatan ekonomi dan apa yang terjadi pada kehidupan ekonomi yang berlangsung.
Pendekatan teori ekonomi mikro menggunakan model-model abstrak di dalam melihat bagaimana terbentuknya harga dari suatu benda dan bagaimana sumber daya yang tersedia dialokasikan kepada berbagai macam penggunaan produksi untuk masyarakat.
Fungsi teori ekonomi mikro adalah hanya bersifat menerangkan dan dapat digunakan sebagai dasar untuk peramalan, dimana kita dimungkinkan untuk membut suatu peramalan yang bersifat kondisional atau ramalan yang besyarat, dimana syaratnya adalah adanya suatu ASUMSI.
Suatu model yang paling sempurna dalam teori ekonomi mikro adalah model penawaran dan model permintaan, dimana melalui penggunaan model ini maka ramalan yang bersifat kondisional dapat dibuat. Misalnya, dapat dikatakan bahwa bila kurva permintaan mempunyai kemiringan yang negatif dan kurva penawaran mempunyai kemiringan yang positif, maka dengan naiknya harga di atas harga keseimbangan akan menciptakan adanya kelebihan barang di pasar, dan sebaliknya.
Teori ekonomi mikro dapat juga diterapkan pada kebijaksanaan perekonomian, yakni dengan menggunakan teori harga untuk menganalisa tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempengaruhi perekonomian.
Peranan Matematika dalam Teori Ekonomi Mikro :
Dalam teori ekonomi mikro penggunaan matematika bukanlah merupakan tujuan, tetapi lebih berperan sebagai alat untuk membantu tercapainya tujuan menerangkan dan meramalkan.Melalui penggunaan matematika, maka masalah ekonomi yang banyak mengandung variabel dapat disederhanakan pemecahannya, serta penyajian teori dapat dilakukan lebih singkat. Pada dasarnya setiap teori ekonomi dapat diformulasikan ke dalam model matematis, meskipun penggunaan analisa variabel seringkali tetap diperlukan untuk mengisi kekurangan-kekurangan dalam hubungan matematis, dan asumsi-asumsi dasar serta kesimpulan yang hendak dicapai
Dalam teori ekonomi mikro penggunaan matematika bukanlah merupakan tujuan, tetapi lebih berperan sebagai alat untuk membantu tercapainya tujuan menerangkan dan meramalkan.Melalui penggunaan matematika, maka masalah ekonomi yang banyak mengandung variabel dapat disederhanakan pemecahannya, serta penyajian teori dapat dilakukan lebih singkat. Pada dasarnya setiap teori ekonomi dapat diformulasikan ke dalam model matematis, meskipun penggunaan analisa variabel seringkali tetap diperlukan untuk mengisi kekurangan-kekurangan dalam hubungan matematis, dan asumsi-asumsi dasar serta kesimpulan yang hendak dicapai
1.3 Asumsi teori ekonomi
mikro
Asumsi-Asumsi Yang Dipakai Teori Ekonomi Mikro
Di atas telah disebutkan bahwa teori ekonomi, khususnya
teori ekonomi mikro, bekerja dengan menggunakan asumsi-asumsi.Dan asumsi-asumsi
tersebut ada yang berlaku sangat umum dalam arti dipakai oleh teori ekonomi,
baik teori ekonomi mikro maupun teori ekonomi makro; ada yang hanya dipakai
oleh teori ekonomi mikro saja atau oleh teori ekonomi makro saja; dan akhirnya
ada pula yang hanya dipakai untuk bagian-bagian tertentu ekonomi mikro maupun
bagian-bagian tertentu ekonomi makro.Di bawah mi disajikan sedikit uraian
mengenai beberapa asumsi yang mendasari kebanyakan teori-teori ekonomi mikro.
A.
Asumsi Umum.
Asumsi-asumsi di
bawah ini dipakai baik oleh teori ekonomi mikro maupun kebanyakan teori ekonomi
lainnya :
Asumsi Rasionalitas. Asumsi ini berlaku
untuk semua teori ekonomi.Pelaku ekonomi yang diasumsikan bersikap rasional
biasa disebut juga homo ekonomikus atau economic man.Penggunaan asumsi mi pada
teori konsumen terwujud dalam bentuk asumsi bahwa rumah tangga keluarga
senantiasa berusaha memaksimumkan kepuasan; yaitu yang dalam literatur terbiasa
dengan sebutan utility maximization assump tion. Sebaliknya dalam teori rumah
tangga perusahaan, asumsi yang sama terjelma dalam bentuk asumsi bahwa rumah
tangga perusahaan senantiasa berusaha inemperoleh keuntungan sebesar-besarnya.
Asumsi ini dalani literatur dikenal sebagai profit maximization assumption.
Asumsi Ceteris Paribus. Sebutan lain untuk
asumsi ini ialah asumsi other things being equal atau lain-lain hal tetap sama
atau lain-lain hal tidak berubah. Yang dikehendaki oleh asumsi mi ialah bahwa
yang mengalami perubahan hanyalah variabel yang secara eksplisit dinyatakan
berubah, sedangkan variabel-variabel lain yang tidak disebutkan berubah,
sepanjang dalam model analisa tidak diasumsikan sebagai variabel yang nilainya
ditentukan oleh variabel lain harus dianggap tidak berubah.
Asumsi Penyederhanaan. Meskipun abstraksi
sudah banyak sekali mengurangi kompleksnya permasalahan, agar supaya
permasalahan nya lebih mudah dianalisa dan difahami, sering-sering kita perlu
menyederhanakan persoalan lebih lanjut.Misalnya saja menurut kenyataan jumlah
macam barang dan jasa yang clihadapi rumah tangga keluarga tidak terhitung
banyaknya. Akan tetapi, nanti akan kita saksikan misalnya pada Bab X,
penggunaan analisa indiferen un tuk menerangkan teori permintaan, jumlah macam
barang yang bisa termuat dalam grafik paling banyak hanya dua. mi memaksa kita
menggunakan asumsi bahwa konsumen hanya menghadapi dua macam barang atau jasa.
Asumsi Khusus Ekonomi Mikro :
Sebetulnya tidak banyak asumsi yang hanya dipergunakan oleh
teori ekonomi mikro, dalam arti tidak dipergunakan sama sekali oleh teori
ekonomi makro. Hal ini kiranya mudah difahami kalau kita ingat hahwa yang
membentuk perilaku perekonomian sebagai suatu keseluruhan tidak lain adalah
perilaku para pelaku ekonomi itu sendiri, dengan demikian tidaklah mengherankan
kalau kita jumpai bahwa teori ekonomi makro banyak menggunakan teori-teori atau
kesimpulan-kesimpulan teoritik ekonomi mikro sebagai dasar analisanya.
Oleh karena itulah maka yang kita maksud dengan asumsi
khusus teori ekonomi mikro, hanyalah terbatas kepada asumsi-asumsi yang banyak
dipakai oleh ekonomi mikro akan tetapi tidak selalu dipakai oleh teori-teori
ekonomi yang lain. Dengan menggunakan batasan ini kita dapat menyebut beberapa
contoh asumsi khusus teori ekonomi mikro. Antara lain yang penting ialah asumsi
ekuilibrium parsial dan asumsi tidak adanya hambatan atas proses penyesuaian
Asumsi ekuilibrium parsial. Untuk sebagian besar
model-model analisa ekonomi mikro, seperti juga halnya dengan seluruh isi buku
ini, didasarkan kepada asumsi berlakunya ekuilibrium parsial, yang
mengasumsikan tidak adanya hubungan timbal-balik antara perbuatan-perbuatan
ekonomi yang dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi dengan perekonomian di mana
pelaku-pelaku ekonomi tersebut berada. Misalnya saja, sebagai akibat berubahnya
cita rasa, para konsumen tiba-tiba mengurangi pengeluaran konsumsinya. Kalau
tidak dipergunakan asumsi ekuilibrium parsial, maka dalam kita membuat analisa
kita harus memperhitungkan pengaruh penurunan pengeluaran konsumsi tersebut
terhadap pendapatan nasional, yang seterusnya juga terhadap pendapatan mereka,
dan yang selanjutnya akan berpengaruh juga terhadap pola pengeluaran para
konsumen tersebut. Dengan menggunakan asumsi ekuilibrium parsial unsur
pemantulan semacam itu tidak kita perhatikan.
Asumsi tidak adanya hambatan atas
proses penyesuaian.
Kelak kita akan menyaksikan misalnya, apabila harga suatu barang mengalami
perubahan, maka berapapun kecilnya perubahan tersebut, selalu diasumsikan bahwa
konsumen melaksanakan penyesuaian atau adjustment. Menurut kenyataan banyak
hambatan-hambatan yang menyulitkan pelaksanaan penyesuaian
tersebut.Faktor-faktor, seperti misalnya faktor psikologi, sosiologi, politik
dan sebagainya, dapat merupakan penghambat terhadap penyesuaian tersebut.
Misalnya, meskipun kita tahu bahwa dengan menurunnya harga barang Z, tingkat
kepuasan akan meningkat dengan cara mengurangi kortsumsi barang Y dan
meningkatkan konsumsi barang Z, namun tidak dapat dijamin bahwa kita akan
melaksanakan penyesuaian tersebut. Misalnya saja dikarenakan toko langganan
kita tidak menjual barang Z, mungkin kita enggan untuk mengadakan penyesuaian
tersebut.Dalam teori ekonomi mikro kita mengasumsikan bahwa hambatan hambatan
terhadap penyesuaian tersebut tidak ada.
1.4 alat analisis teori
ekonomi mikro
ALAT-ALAT ANALISIS DALAM ILMU EKONOMI
Ilmu ekonomi memerlukan beberapa
alat analisis untuk menerangkan teori-teorinya dan
untuk menguji kebenaran teori=teori tersebut .yaitu :
Peranan grafik dalam
analisi ekonomi
Teori dan penjelasan ilmiah memerlukan alat-alat
agar dapat dengan mudah di mengerti. Dalam ilmu ekonomi
usaha untuk memberikan penerangan yang lebih jelas mengenai
teori-teori ekonomi dilakukan dengan bantuan grafik dan kurva
.
Sifat-sifat grafik
Suatu grafik mempunyai dua sumbu: sumbu datar dan sumbu
tegak.Sumbu datar adalah sumbu yang letaknya horizontal,sedangkan Sumbu
tegak adalah sumbu yang tegak lurus pada sumbu horizontal.pertemuan
di antara sumbu tersebut di namakan origin atau titik asal.
2. MASALAH EKONOMI
a.
Kelangkaan
sebagai sumber masalah
Kelangkaan Sumber Ekonomi
Inti masalah ekonomi adalah keinginan yang tidak terbatas
namun dengan alat pemenuh kebutuhan yang terbatas. Alat pemuas kebutuhan berupa
barang atau jasa dengan sumber daya yang sudah tersedia. Sumber daya yang
tersedia bersifat terbatas dan langka. Jadi, kebutuhan manusia yang tidak
terbatas dihadapkan dengan sumber-sumber yang bersifat terbatas akan
menimbulkan kelangkaasn sumber daya tersebut.
Contoh kelangkaan ekonomi:
1). Kelangkaan sumber makanan pokok masyarakat
seperti padi, gandum, dan sumber makanan pokok lainnya.
2). Kelangkaan BBM (bahan bakar minyak) seperti bensin,
solar, dan lain-lain.
Kelangkaan sumber ekonomi manusia dibagi menjadi 3
(tiga):
1). Kebutuhan manusia yang tidak terbatas
Kebutuhan manusia memiliki 2 (dua) sifat yaitu sifat
keberanekaan ragam dan tidak dapat di puaskan dengan barang atau jasa.Hal
tersebut yang membuat kebutuhan manusia tidak terbatas.
Contoh kebutuhan manusia yang tidak terbatas: 1). sesorang
ingin memiliki sepeda untuk mendukung ia melakukan aktifitasnya sehari-hari
namun sesudah memiliki sepeda Ia akan menginginkan sepeda motor untuk mendukung
aktifitasnya sehari-hari. Dan kemudian setelah memiliki sepeda motor Ia akan
menginginkan yang lebih seperti motor yang lebih bagus ataupun Mobil.
b.
3
masalah pokok ekonomi
Masalah pokok ekonomi dapat ditinjau dari 2 sudut pandang:
Menurut Teori Klasik, yang dipelopori oleh Adam Smith
terdiri dari :
1.
PRODUKSI
Produksi adalah
segala tindakan yang ditujukan untuk meningkatkan nilai guna / manfaat dari
suatu barang.
Karena sifat manusia yang tidak pernah mengalami tingkat
kepuasan yang hakiki, maka berapapun yang diproduksi selalu tidak pernah
mencukupi kebutuhan manusia; sehingga selama itu pula produksi menjadi masalah
pokok ekonomi.
2.
DISTRIBUSI
Distribusi adalah segala
kegiatan yang ditujukan untuk menyampaikan atau menyalurkan barang hasil
produksi dari produsen hingga sampai ke tangan konsumen akhir/pemakai.
Yang termasuk kegiatan distribusi diantaranya : Pengemasan,
pensortiran/pemilahan, pengepakan, penyimpanan/pergudangan, pengangkutan, dll
Distribusi dapat dibedakan menjadi 2 cara :
1. Distribusi langsung, dimana barang
hasil produksi langsung disalurkan ke konsumen akhir/pemakai.
2. Distribusi tidak langsung, dimana dalam
penyalurannya melalui beberapa perantara, seperti : agen, grosir, eksportir,
importir, komisioner, makelar, pedagang eceran, dll. Semakin panjang mata
rantai penyaluran sangat dimungkinkan harga yang ditanggung konsumen akhir
lebih mahal.
3. KONSUMSI
Konsumsi adalah segala tindakan yang
tujuannya menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang.
Kegiatan konsumsi dipengaruhi oleh 2 faktor :
1. Faktor Internal, seperti : pendapatan, selera karakter,
kepribadian, motivasi.
2. Faktor Eksternal, seperti : kebudayaan, peradaban, lingkungan,
status sosial, kebijakan pemerintah, dll.
Menurut Teori Modern
Menurut Paul A Samuelson, seorang pakar ekonomi, membedakan
masalah pokok yang dihadapi oleh perekonomian, yaitu :
1. Apa yang akan diproduksi (What) Karena keterbatasan sumber
daya faktor produksi, maka harus hal yang tidak mungkin akan memproduksi
sebanyak-banyaknya, maka harus dilakukan pemilihan barfang apa yang harus
diproduksi serta berapa jumlahnya.
2. Bagaimana proses produksinya (How) Hal ini sangat
tergantung dari ketersediaan sumber daya faktor produksi dari setiap
wilayah/negara. Bagi negara maju akan menggunakan faktor produksi padat modal
dengan teknologi majunya, sementara bagi negara yang berkembang akan menerapkan
teknologi menengah tanpa mengesampingkan pendayagunaan sumber daya manusia yang
ada sehingga tidak terjadi pengangguran yang tinggi.
3. Untuk siapa hasil produksi ditujukan (for Whom) Untuk
masalah yang satu ini, pertimbangan ditujukan bagaimana caranya agar hasil
produksi dapat memenuhi kebutuhan utama masyarakat serta dengan tingkat harga
yang terjangkau oleh masyarakat yang menjadi pangsa pasarnya.
Menurut Richard Lipsey, menambahkan permasalahan
perokonomian secara makro, yaitu tingkat inflasi, tingkat pengangguran
dan kapasitas produksi.
3. KEGIATAN EKONOMI
a.
Putaran
kegiatan ekonomi
b.
Produksi
Kegiatan produksi sangat berperan penting dalam kegiatan
ekonomi karena menyangkut kebutuhan manusia. Tanpa adanya produksi persediaan
konsumsi akan menjadi langka dan masyarakat akan mengalami kesulitan dalam
memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu, manusia harus berusaha memproduksi
barang dan jasa agar alat pemuas kebutuhannya terpenuhi.
1.
PENGERTIAN PRODUKSI
A. Pengertian
produksi dalam Arti sehari-hari
Setiap hari manusia selalu menggunakan barang untuk memenuhi
kebutuhanya. Barang-barang tersebut tidak akan tersedia apabila tidak ada yang
menghasilkanya. Contoh: Di daerah pedesaan para petani mengolah sawah atau
ladangnya untuk menghasilkan barang-barang hasil pertanian seperti padi,
jagung, keledai, tebu, dll.
Contoh kegiatan diatas disebut Produksi.Jadi, produksi
adalah kegiatan menghasilkan barang atau jasa.
B. Pengertian
produksi menurut ilmu ekonomi
Menurut ilmu ekonomi, produksi tidak terbatas pada kegiatan
menghasilkan barang atau jasa, tetapi juga kegiatan yang sifatnya menambah
nilai atau kegunaan barang yang sudah ada menjadi lebih tinggi
nilainya.Perhatikan contoh berikut.
a. Tukang
kayu yang mengecat kursi hasil buatanya.
b. Pedagang
yang membeli sepeda bekas lalu ia bersihkan, perbaiki, dan dicat kembali lalu
dijual
Berdasarkan uraian di atas, produksi menurut ilmu ekonomi
adalah setiap kegiatan yang dilakukan manusia untuk menghasilkan/menaikan nilai
kegunaan barang/jasa.
c.
distribusi
Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan sebagai
kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian
barang dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai
dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan).
Dengan kata lain, proses distribusi merupakan aktivitas pemasaran yang mampu:
1. Menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi
pemasaran yang dapat merealisasikan kegunaan/utilitas bentuk, tempat, waktu,
dan kepemilikan.
2. Memperlancar arus saluran pemasaran (marketing channel
flow) secara fisik dan non-fisik. Yang dimaksud dengan arus pemasaran adalah
aliran kegiatan yang terjadi di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat
di dalam proses pemasaran. Arus pemasaran tersebut meliputi arus barang fisik,
arus kepemilikan, arus informasi, arus promosi, arus negosiasi, arus
pembayaran, arus pendanaan, arus penanggungan risiko, dan arus pemesanan.
Dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas distribusi, perusahaan
kerapkali harus bekerja sama dengan berbagai perantara (middleman) dan saluran
distribusi (distribution channel) untuk menawarkan produknya ke pasar.
d.
Konsumsi
Manusia memiliki kebutuhan yang beraneka ragam .manusia menginginkan
agar semua kebutuhannya dapat terpenuhi.alat pemuas kebutuhan manusia yang
terdiri dari barang dan jasa sangat terbatas jumlahnya. “konsumsi adalah setiap
kegiatan memakai, menggunakan, atau menikmati barang atau jasa untuk memenuhi
kebutuhan.”
Adapun pengertian konsumsi dapat digolongkan dalam dua
bagian, yaitu konsumsi langsung dan konsumsi tak langsung.Konsumsi langsung
merupakan pengkonsumsian barang yang langsung dilakukan oleh penggguna barang
dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya. Contohnya, makanan, minuman, dan pakaian
yang langsung dipakaioleh pengguna sementara itu, konsumsi tak langsung
merupakan pemakaina benda konsumsi berupa barang dan jasa yang tidak secara
langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna barang contohnya, pembelian
bahan baku pabrik yang akan diproses lebih lanjut untuk keperluan penciptaan
barang. Pembelian bahan baku dapat dikategorikan sebagai tindakan konsumsi,
tetapi bukan merupakan konsumsi langsung.
4. FAKTOR PRODUKSI
Kegiatan produksi tentunya memerlukan
unsur-unsur yang dapat digunakan dalam proses produksi yang disebut faktor
produksi. Faktor produksi yang bisa digunakan dalam proses produksi terdiri
atas sumberdaya alam, tenaga kerja mansuia, modal dan kewirausahaan.
a.
Alam
Sumberdaya alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat
dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sumberdaya alam di sini
meliputi segala sesuatu yang ada di dalam bumi, seperti:
- Tanah, tumbuhan, hewan.
- Udara, sinar matahari, hujan.
- Bahan tambang, dan lain sebagainya.
Faktor produksi sumberdaya alam merupakan faktor produksi asli karena telah
tersedia di alam langsung.
b.
Tenaga
kerja
Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia baik jasmani maupun rohani
yang dicurahkan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa maupun
faedah suatu barang.
Tenaga kerja manusia dapat diklasifikasikan menurut tingkatannya (kualitasnya)
yang terbagi atas:
a). Tenaga kerja terdidik (skilled labour), adalah tenaga
kerja yang memperoleh pendidikan baik formal maupun non formal.
Contoh: guru, dokter, pengacara, akuntan, psikologi,
peneliti.
b). Tenaga kerja terlatih (trained labour), adalah
tenaga kerja yang memperoleh keahlian berdasarkan latihan dan pengalaman.
Contoh: montir, tukang kayu, tukang ukir, sopir, teknisi.
c) Tenaga kerja tak terdidik dan tak terlatih (unskilled and
untrained labour), adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekuatan jasmani
daripada rohani.
Contoh: tenaga kuli pikul, tukang sapu, pemulung, buruh tani
c.
Distribusi
Yaitu
kegiatan menyalurkan atau menjual barangb sampai ke tangan konsumen
@ Macam-macam :
1. Distribusi pendek/
distribusi langsung (produsen-konsumen)
2. Distribusi semi
langsung, dimana penyaluran barang hasil produksi dari produsen ke konsumen
melalui badan perantara (toko) milik produsen itu sendiri.
3. Distribusi panjang/
distribusi tidak langsung (produsen-distribusi-konsumen)
Lembaga distribusi Adalah orang / badan usaha yang menjadi
perantara antara produsen dan konsumen.
@ Lembaga distribusi dapat digolongkan menjadi :
1. Pedagang, adalah lembaga distribusi yang melakukan
pekerjaan membeli hasil produksi untuk dijual kembali atas tanggung jawab
sendiri. Pedagang dapat dibedakan menjadi :
(a) Pedagang besar atau grosir (whoseller)
yaitu pedagang yang membeli barang dalam jumlah besar dan menjualnya kembali ke
para pengecer
(b) Pedagang kecil / eceran (retailer)
2. Perantara khusus, adalah lembaga yang menyalurkan
barang dari produsen ke konsumen namun tidak bertanggung jawab apabila barang
yang disalurkan tersebut tidak laku. Perantara khusu terbagi dari :
(a) Agen,
(b) Lembaga
(c) Komisioner
(d) Importir
(e) Eksportir
d.
Konsumsi
Kegiatan manusia yang secara langsung menggunakan barang dan
jasa (baik mengurangi ataupun menghabiskan nilai guna suatu barang/jasa) untuk
memenuhi kebutuhan dan memperoleh kepuasan.
Contoh kegiatan konsumsi antara lain : makan,naik kendaraan
umum, menonton tv, membaca buku, dll
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pola Konsumsi
· Tingkat
pendapatan masyarakat
· Selera
konsumen
· Harga
barang, baik harga barang itu sendiri, barang substitusi maupun barang
komplemeter
· Tingkat
pendidikan masyarakat
· Jumlah
keluarga
· Lingkungan
alam
5. PERMINTAAN DAN
PENAWARAN
5.1 pengertian permintaan
dan penawaran
~Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta
pada suatu harga dan waktu tertentu.
~Penawaran adalah jumlah keseluruhan barang atau jasa yang
dijual atau jasa yang akan dijual atau
ditawarkan oleh produsen pada berbagai macam tingkat harga.
5.2 hukum permintaan dan
penawaran
~ Hukum permintaan berbunyi, “Jumlah barang yang diminta
akan selalu berbanding terbalik dengan harganya, artinya jika harga barang
naik, maka jumlah barang yang diminta akan berkurang, dan jika harga barang
turun, maka jumlah barang yang diminta akan bertambah.
~ Hukum penawaran mengatakan bahwa jumlah barang yang
ditawarkan akan selalu terbanding lurus dengan harganya / artinya jika harga
barang naik, maka jumlah barang yang ditawarkan bertambah, sebaliknya jika
harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan berkurang.
5.3 faktor-faktor yang
mempengaruhi
~ Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan
1. Perilaku konsumen / selera konsumen
Saat ini handphone blackberry sedang trend dan banyak yang
beli, tetapi beberapa tahun mendatang mungkin blackberry sudah dianggap kuno.
2. Ketersediaan dan harga barang sejenis pengganti dan
pelengkap
Jika roti tawar tidak ada atau harganya sangat mahal maka
meises, selai dan margarin akan turun permintaannya.
3. Pendapatan / penghasilan konsumen
Orang yang punya gaji dan tunjangan besar dia dapat membeli
banyak barang yang dia inginkan, tetapi jika pendapatannya rendah maka
seseorang mungkin akan mengirit pemakaian barang yang dibelinya agar jarang
beli.
4. Perkiraan harga dimasa depan
Barang yang harganya diperkirakan akan naik, maka orang akan
menimbun atau membeli ketika harganya masih rendah misalnya seperti bbm/bensin.
5. Banyaknya/intensitas kebutuhan konsumen
Ketika flu burung dan flu babi sedang menggila, produk
masker pelindung akan sangat laris. Pada bulan puasa (ramadhan) permintaan
belewah, timun suri, cincau, sirup, es batu, kurma, dan lain sebagainya akan
sangat tinggi dibandingkan bulan lainnya.
~ Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penawaran
1. Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
Jika biaya pembuatan/produksi suatu produk sangat tinggi
maka produsen akan membuat produk lebih sedikit dengan harga jual yang mahal
karena takut tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dan produk tidak laku
terjual. Dengan adanya teknologi canggih bisa menyebabkan pemangkasan biaya
produksi sehingga memicu penurunan harga.
2. Tujuan perusahaan
Perusahaan yang bertujuan mencari keuntungan
sebesar-besarnya (profit oriented) akan menjual produknya dengan marjin
keuntungan yang besar sehingga harga jual jadi tinggi. Jika perusahaan ingin
produknya laris dan menguasai pasar maka perusahaan menetapkan harga yang
rendah dengan tingkat keuntungan yang rendah sehingga harga jual akan rendah
untuk menarik minat konsumen.
3. Pajak Pajak yang naik akan menyebabkan harga jual jadi
lebih tinggi sehingga perusahan menawarkan lebih sedikit produk akibat
permintaan konsumen yang turun.
4. Ketersediaan dan harga barang pengganti / pelengkap
Jika ada produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang
murah maka konsumen akan ada yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga
terjadi penurunan permintaan, akhirnya penawaran pun dikurangi.
5. Prediksi / perkiraan harga dimasa depan
Ketika harga jual akan naik di masa mendatang perusahaan
akan mempersiapkan diri dengan memperbanyak output produksi dengan harapan bisa
menawarkan/menjual lebih banyak ketika harga naik akibat berbagai faktor.
5.4 tabel/skala
permintaan dan penawaran
contoh tabel dari pasar buah manga :
5.5 kurva permintaan dan
penawaran
~ Kurva Permintaan :
~ kurva Penawaran
5.6 fungsi permintaan dan
penawaran
A. Fungsi Permintaan
Fungsi Permintaan adalah persamaan yang menunjukkan hubungan
antara jumlah suatu barang yang diminta dengan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.fungsi permintaan adalah suatu kajian matematis yang digunakan
untuk menganalisa perilaku konsumen dan harga.fungsi permintaan mengikuti hukum
permintaan yaitu apabila harga suatu barang naik maka permintaan akan barang
tersebut juga menurun dan sebaliknya apabila harga barang turun maka permintaan
akan barang tersebut meningkat. jadi hubungan antara harga dan jumlah barang
yang diminta memiliki hubungan yang terbalik, sehingga gradien dari fungsi
permintaan (b) akan selalu negatif.
Bentuk umum fungsi permintaan dengan dua variabel adalah
sebagai beriut :
Qd = a – bPd atau Pd = -1/b ( -a +
Qd)
dimana :
a dan b = adalah konstanta, dimana b harus bernilai negatif
b =
∆Qd / ∆Pd
Pd = adalah harga
barang per unit yang diminta
Qd = adalah banyaknya
unit barang yang diminta
Syarat, P ≥ 0, Q ≥ 0, serta dPd / dQ <
0
untuk lebih memahami tentang fungsi permintaan, dibawah ini
disajikan soal dan pembahasan tentang fungsi permintaan.
Pada saat harga Jeruk Rp. 5.000 perKg
permintaan akan jeruk tersebut sebanyak 1000Kg, tetapi pada saat harga
jeruk meningkat menjadi Rp. 7.000 Per Kg permintaan akan jeruk menurun
menjadi 600Kg, buatlah fungsi permntaannya ?
Pembahasan :
Dari soal diatas diperoleh data :
P1 = Rp. 5.000 Q1 = 1000 Kg
P2 = Rp. 7.000 Q2 = 600 Kg
untuk menentukan fungsi permintaannya maka digunakan
rumus persamaan garis melalui dua titik, yakni :
y –
y1 x – x1
—— = ——–
y2 – y1 x2 –
x1
dengan mengganti x = Q dan y = P maka didapat,
P – P1
Q – Q1
——- = ——–
P2 – P1 Q2 –
Q1
mari kita masukan data diatas kedalam rumus :
P
–
5.000
Q – 1000
———————– = —————-
7.000 –
5.000
600 – 1000
P – 5.000
Q – 1000
———————– = —————-
2.000
-400
P – 5.000 (-400) = 2.000 (Q –
1000)
-400P + 2.000.000 = 2000Q – 2.000.000
2000Q = 2000.000 + 2.000.000 – 400P
Q = 1/2000 (4.000.000 – 400P)
Q = 2000 – 0,2P
============
Jadi Dari kasus diatas diperoleh fungsi permintan Qd = 2000
– 0,2
B. Fungsi Penawaran
Fungsi penawaran adalah persamaan yang menunjukkan hubungan
harga barang di pasar dengan jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen.
Fungsi penawaran digunakan oleh produsen untuk menganalisa kemungkinan2 banyak
barang yang akan diproduksi. Menurut hukum penawaran bila harga barang naik,
dengan asumsi cateris paribus (faktor-faktor lain dianggap tetap), maka jumlah
barang yang ditawarkan akan naik, dan sebaliknya apabila harga barang menurun
jumlah barang yang ditawarkan juga menurun. jadi dalam fungsi penawaran antara
harga barang dan jumlah barang yang ditawarkan memiliki hubungan posifit,
karenanya gradien (b) dari fungsi penawaran selalu positif.
Bentuk umum dari fungsi penawaran linear adalah sebagai
berikut:
Qs = a + bPs
dimana :
a dan b = adalah konstanta, dimana b harus bernilai positif
b = ∆Qs/ ∆Ps
Ps= adalah harga barang per unit yang ditawarkan
Qs= adalah banyaknya unit barang yang ditawarkan
Ps≥ 0, Qs≥ 0, serta dPs/ dQs > 0
Pada saat harga durian Rp. 3.000 perbuah toko A hanya mampu
menjual Durian sebanyak 100 buah, dan pada saat harga durian Rp. 4.000 perbuah
toko A mampu menjual Durian lebih banyak menjadi 200 buah. dari kasus tersebut
buatlah fungsi penawarannya ?
Jawab :
dari soal diatas diperoleh data sebagai berikut :
P1 = 3.000 Q1 = 100 buah
P2 = 4.000 Q2 = 200 buah
Langkah selanjutnya, kita memasukan data-data diatas kedalam
rumus persamaan linear a:
P – P1 Q –
Q1
——– = ———
P2 – P1 Q2 – Q1
P –
3.000 Q – 100
————– = ————-
4.000 – 3.000 200 – 100
P –
3.000 Q – 100
————– = ————-
1.000
100
(P – 3.000)(100) = (Q – 100) (1.000)
100P – 300.000 = 1.000Q – 100.000
1.000Q = -300.000 + 100.000 + 100P
1.000Q = -200.000 + 100P
Q = 1/1000 (-200.000 + 100P )
Q = -200 + 0.1P
============
Jadi dari kasus diatas diperoleh Fungsi penawaran : Qs =
-200 + 0,1Pd
C. Keseimbangan Harga
Keseimbangan harga di pasar tercapai apabila Qd = Qs atau Pd
= Ps, Jadi keseimbangan harga merupakan kesepakatan-kesepakatan antara produsen
dan konsumen dipasar.
untuk lebih jelasnya perhatikan contoh soal dibawah ini :
Tentukan jumlah barang dan harga pada
keseimbangan pasar untuk fungsi permintaan Qd = 10 – 0,6Pd dan fungsi penawaran
Qs = -20 + 0,4Ps.
Jawab:
Keseimbangan terjadi apabila Qd = Qs, Jadi
10 – 0,6Pd = -20 + 0,4Ps
0,4P + 0,6P = 10 + 20
P = 30
Setelah diketahui nilai P, kita masukan nilai tersebut kedalam
salah satu fungsi tersebut:
Q = 10 – 0,2(30)
Q = 10 – 6
Q = 4,
Jadi keseimbangan pasar terjadi pada saat harga (P)=30 dan
jumlah barang (Q) = 4.
6.
Mekanisme pembentukan
harga pasar
A. PENGERTIAN HARGA
PASAR
- Harga pasar atau
Harga keseimbangan adalah Harga yang disepakati oleh pihak penjual dan pihak
pembeli pada tingkatan harga tertentu.
- Pada tingkatan
harga tertentu, jumlah barang dan jasa yang diminta sama dengan jumlah barang
dan jasa yang ditawarkan.
- Terbentuknya harga
ditentukan berdasarkan hukum ekonomi ( hukum permintaan dan hukum penawaran )
yaitu sebagai berikut :
1. Harga akan tetap
jika permintaan seimbang.
2. Permintaan makin
bertambah, jika harga turun, penawaran akan berkurang
jika harga makin
turun.
3. Makin banyak
permintaan, harga makin tinggi, makin banyak penawaran,
harga makin rendah.
B. PROSES
TERBENTUKNYA HARGA PASAR
- Harga pasar akan
tercapai setelah melalui serangkaian proses tawar – menawar antara penjual dan
pembeli.
- Apabila harga
barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual dirasa terlalu tinggi oleh
pembeli maka barang dan jasa tersebut tidak dapat terjual.
- Istilah Surplus
dikenal dengan pengertian suatu keadaaan dimana terjadi kelebihan penawaran.
- Istilah Shortage
dikenal dengan pengertian suatu keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan
- Prinsip Ceteris
Paribus berlaku dalam hal ini, yaitu Harga merupakan satu – satunya faktor yang
menentukan permintaan dari pembeli dan penawaran dari penjual.
- Faktor – Faktor
yang mempengaruhi harga pasar :
1. Permintaan
terhadap barang atau jasa bertambah, sedangkan jumlah barang atau
jasa terbatas.
2. Tinggi rendahnya
biaya produksi.
3. Pandangan masa
depan dari produsen atau konsumen.
4. Produsen
mengetahui selera konsumen.
5. Penawaran terhadap
barang atau jasa bertambah, sedangkan daya beli konsumen
Tetap atau berkurang
- Peranan Harga pasar
dalam perekonomian :
1. Menunjukan
perubahan kebutuhan masyarakat.
2. Membantu
menentukan penawaran.
3. Menggerakkan
pengusaha untuk berkreasi terhadap perubahan permintaan
- Fungsi harga pasar
adalah sebagai berikut :
1. Menentukan jenis
barang yang akan diproduksi.
2. Menentukan
pembagian hasil produksi diantara para konsumen.
3. Menentukan
teknologi yang akan digunakan dalam proses produksi.
- Kurva Keseimbangan
penawaran dan permintaan :
Harga ( P )
|
Permintaan
|
Penawaran
|
Rp 2500
|
5
|
20
|
Rp 2000
|
10
|
15
|
Rp 1500
|
12
|
12
|
Rp 1000
|
15
|
10
|
Rp 500
|
20
|
5
|
7.
ELASTISITAS
7.1 Elastisitas
Permintaan
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas
permintaan atau price elasticity of demand (PED) adalah ukuran kepekaan
perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga.
Elastisitas
permintaan mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang
terhadap perubahan harga.Ketika harga sebuah barang turun, jumlah permintaan
terhadap barang tersebut biasanya naik —semakin rendah harganya, semakin banyak
benda itu dibeli.Elastisitas permintaan ditunjukan dengan rasio persen
perubahan jumlah permintaan dan persen perubahan harga.Ketika elastisitas
permintaan suatu barang menunjukkan nilai lebih dari 1, maka permintaan
terhadap barang tersebut dikatakan elastis di mana besarnya jumlah barang yang
diminta sangat dipengaruhi oleh besar-kecilnya harga.Sementara itu, barang
dengan nilai elastisitas kurang dari 1 disebut barang inelastis, yang berarti
pengaruh besar-kecilnya harga terhadap jumlah-permintaan tidak terlalu besar.
Sebagai contoh, jika harga sepeda motor turun 10% dan jumlah permintaan atas
sepeda motor itu naik 20%, maka nilai elastisitas permintaannya adalah 2; dan
barang tersebut dikelompokan sebagai barang elastis karena nilai elastisitasnya
lebih dari 1. Perhatikan bahwa penurunan harga sebesar 1% menyebabkan
peningkatan jumlah permintaan sebesar 2%, dengan demikian dapat dikatakan bahwa
jumlah permintaan atas sepeda motor sangat dipengaruhi oleh besarnya harga yang
ditawarkan.
koefisien
|
Elastisitas
|
n
= 0
|
Inelastis
sempurna
|
0
< n < 1
|
Inelastis
|
n
= 1
|
Elastis
uniter
|
1
< n < ∞
|
Elastis
|
n
= ∞
|
Elastis
sempurna
|
Untuk barang-barang normal, penurunan harga
akan berakibat pada peningkatan jumlah permintaan. Permintaan terhadap sebuah
barang dapat dikatakan inelastis bila jumlah barang yang diminta tidak
dipengaruhi oleh perubahan harga.Barang dan jasa yang tidak memiliki substitusi biasanya tergolong
inelastis. Permintaan terhadap antibiotik, misalnya, dikatakan
sebagai permintaan inelastis karena tidak ada barang lain yang dapat
menggantikannya. Daripada mati terinfeksi bakteri, pasien biasanya lebih
memilih untuk membeli obat ini berapapun biayanya.Sementara itu, semakin banyak
sebuah barang memiliki barang substitusi, semakin elastis
barang tersebut.
meskipunpermintaan
inelastis sering diasosiasikan dengan barang “kebutuhan,” banyak juga barang
yang bersifat inelastis meskipun konsumen mungkin tidak “membutuhkannya.”
Permintaan terhadap garam, misalnya, menjadi
permintaan inelastis bukan karena konsumen sangat membutuhkannya, melainkan
karena harganya yang sangat murah.
Rumus yang dapat
digunakan untuk menghitung koefisien elastisitas permintaan adalah
atau menggunakan
kalkulus differensial:
atau bisa juga:
dimana:
7.2 Elastisitas penawaran
Elastisitas penawaran mengukur seberapa banyak penawaran barang
dan jasa berubah ketika harganya berubah.Elastistas harga ditunjukkan dalam
bentuk prosentase perubahan atas kuantitas yang ditawarkan sebagai akibat dari
satu persen perubahan harga.
Koefisien Elastisitas
Penawaran
Perhitungan koefisien
elastisitas permintaan dengan menggunakan metode mid point adalah sebagai
berikut :
Es = % perubahan
kuantitas penawaran / % perubahan harga,
Keterangan :
ES = Elastisitas penawaran
Q2 = Kuantitas penawaran setelah perubahan
Q1 = Kuantitas penawaran awal
P2 = Harga setelah perubahan
P1 = Harga awal
ES = Elastisitas penawaran
Q2 = Kuantitas penawaran setelah perubahan
Q1 = Kuantitas penawaran awal
P2 = Harga setelah perubahan
P1 = Harga awal
Jenis-jenis
Elastisitas Penawaran
Ada lima jenis
elastisitas penawaran :
1.
Penawaran tidak
elastis sempurna : elastisitas = 0. Penawaran tidak dapat ditambah pada tingkat
harga berapapun, sehingga kurva penawaran (S) akan terlihat vertikal.
2.
Penawaran tidak
elastis : elastisitas < 1. Perubahan penawaran lebih kecil dari perubahan
harga, artinya perubahan harga mengakibatkan perubahan yang relatif kecil
terhadap penawaran.
3.
Penawaran uniter
elastis : elastisitas = 1. Perubahan penawaran sama dengan perubahan harga.
4.
Penawaran elastis :
elastisitas > 1. Perubahan penawaran lebih besar dari perubahan harga,
artinya perubahan harga mengakibatkan perubahan yang relatif besar terhadap
penawaran.
5.
Penawaran elastis
sempurna : elastisitas tak terhingga. Perusahaan dapat menyuplai berarapun
kebutuhan pada satu tingkat harga tertentu. Perusahaan mampu menyuplai pada
biaya per unit konstan dan tidak ada limit kapasitas produksi.
7.3 Elastisitas
Permintaan silang
Elastisitas
Permintaan Silang
Elastisitas
permintaan silang mengukur bagaimana perubahan kuantitas yang diminta atas
sebuah produk mempengaruhi harga produk lainnya. Perhitungannya adalah sebagai
berikut :
Keterangan :
EA,B = elastisitas silang antara produk A dan B
P1B = harga awal produk B
P2B = harga produk B setelah perubahan
ΔQA = kenaikan permintaan produk A
Q1A = kuantitas permintaan awal produk A
Q2A = kuantitas permintaan produk A setelah harga produk B berubah
ΔPB = kenaikan harga produk B
Elastisitas silang
berhubungan dengan karakteristik kedua produk, yaitu :
1. Produk substitusi.
Elastisitas permintaan silang adalah positif, dimana kenaikan harga produk A akan menaikkan permintaan atas produk B. Contoh produk substitusi : minyak tanah dan kayu bakar, makanan ringan yang tersedia dalam berbagai merek, beras berkualitas sama mereak A dan B, dan lain sebagainya.
2. Produk komplementer.
Elastisitas permintaan silang adalah negatif , dimana kenaikan harga produk A akan menurunkan permintaan produk B, vice versa. Contoh produk komplementer misalnya bensin dan mobil (mobil tidak dapat digunakan tanpa bensin). Jika harga bensin naik, permintaan akan mobil akan cenderung turun.
1. Produk substitusi.
Elastisitas permintaan silang adalah positif, dimana kenaikan harga produk A akan menaikkan permintaan atas produk B. Contoh produk substitusi : minyak tanah dan kayu bakar, makanan ringan yang tersedia dalam berbagai merek, beras berkualitas sama mereak A dan B, dan lain sebagainya.
2. Produk komplementer.
Elastisitas permintaan silang adalah negatif , dimana kenaikan harga produk A akan menurunkan permintaan produk B, vice versa. Contoh produk komplementer misalnya bensin dan mobil (mobil tidak dapat digunakan tanpa bensin). Jika harga bensin naik, permintaan akan mobil akan cenderung turun.
7.4 Elastisitas
pendapatan
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas pendapatan adalah
perubahan dalam permintaan sebagai akibat dari perubahan dalam pendapatan.
Misalnya, apabila karena pendapatan meningkat 10%, permintaan suatu barang
meningkat 20%, maka elastisitas pendapatannya adalah 20%/10% = 2.
RUMUS
Elastisitas pendapatan ditentukan oleh jenis produk, yaitu :
1. Produk normal.
Elastisitas pendapatan adalah positif. Misalnya, permintaan akan produk normal akan meningkat jika pendapatan meningkat. Contoh ekstrimnya adalah beras, dapat digantikan dengan ubi sebagai produk inferiornya.
2. Produk inferior.
Elastisitas pendapatan adalah negatif. Misalnya, permintaan akan produk inferior akan menurun jika pendapatan meningkat.
1. Produk normal.
Elastisitas pendapatan adalah positif. Misalnya, permintaan akan produk normal akan meningkat jika pendapatan meningkat. Contoh ekstrimnya adalah beras, dapat digantikan dengan ubi sebagai produk inferiornya.
2. Produk inferior.
Elastisitas pendapatan adalah negatif. Misalnya, permintaan akan produk inferior akan menurun jika pendapatan meningkat.
8. KEBIJAKSANAAN
PENETAPAN HARGA OLEH PEMERINTAH
8.1 Kebijakan penetapan
harga eceran terendah (floor price)
PENGERTIAN FLOOR
PRICE
•
Penetapan harga dasar
ini bertujuan untuk melindungi produsen, karena dirasakan harga pasar produk
yang dihasilkan dianggap terlalu rendah sehingga pendapatan para produsen
terancam.
•
Untuk
melindungi para produsen maka pemerintah dapat campur tangan dengan menetapkan
harga minimum atau Harga Eceran Terendah.
•
Harga minimum
ini lebih tinggi daripada harga keseimbangan yang berlaku di pasar dan disebut
Harga Dasar
(Floor Price ).
(Floor Price ).
PENGARUH FLOOR PRICE TERHADAP PASAR
Sebuah harga dasar ditetapkan di atas harga keseimbangan pasar memiliki beberapa efek samping.
Sebuah harga dasar ditetapkan di atas harga keseimbangan pasar memiliki beberapa efek samping.
@ Konsumen mendapatkan keadaan mereka sekarang harus
membayar harga yang lebih tinggi untuk produk yang sama.
Sebagai hasilnya, mereka mengurangi pembelian mereka pada
produk tersebut atau keluar dari pasar secara total.
@ Di lain pihak, pemasok menemukan harga yang terjamin, harga
baru lebih tinggi daripada yang mereka pakai sebelumnya.
Sebagai hasilnya, mereka meningkatkan produksi.
Secara keseluruhan,
@ Berarti efek sekarang adalah adanya kelebihan pasokan (dikenal
sebagai “surplus”) dari produk di pasar. Untuk menjaga harga
dasar dalam jangka panjang. Harga keseimbangan ditentukan
ketika kuantitas yang diminta sama dengan kuantitas yang
ditawarkan.
membayar harga yang lebih tinggi untuk produk yang sama.
Sebagai hasilnya, mereka mengurangi pembelian mereka pada
produk tersebut atau keluar dari pasar secara total.
@ Di lain pihak, pemasok menemukan harga yang terjamin, harga
baru lebih tinggi daripada yang mereka pakai sebelumnya.
Sebagai hasilnya, mereka meningkatkan produksi.
Secara keseluruhan,
@ Berarti efek sekarang adalah adanya kelebihan pasokan (dikenal
sebagai “surplus”) dari produk di pasar. Untuk menjaga harga
dasar dalam jangka panjang. Harga keseimbangan ditentukan
ketika kuantitas yang diminta sama dengan kuantitas yang
ditawarkan.
JENIS-JENIS FLOOR
PRICE
•
Jika kedua daerah
arsiran tersebut dipisahkan maka tampak sebagai berikut:
Arsiran I : pembelian
kelebihan oleh pemerintah untuk ditimbun:biaya yang dibutuhkan pemerintah untuk
membeli kelebihan penawaran adalah sebesar S’ SFE’
Arsiran II:Pemberian
subsidi kepada petani ;biaya yang dibutuhkan pemerintah untuk pemberian subsidi
adalah sebesar AEFB
Sehingga,AEFB>S’SFE’
Jadi,subsidi lebih
mahal daripada pembelian kelebihan.
ELASTIS
jika kedua daerah arsian tersebut dipisahkan maka tampak
sebagai berikut :
Arsiran 1 : pembelian kelebihan oleh pemerintah untuk
ditimbun : biaya yang dibutuhkan pemerintah untuk membeli kelebihan penawaran
adalah sebesar S’SFE’
Arsiran 2 : pemberian subsidi kepada petani : biaya yang
dibutuhkan pemerintah untuk pemberian subsidi adalah sebesar AEFB
Sehingga AEFB < S’SFE’
jadi pembelian pemerintah lebih mahal daripada subsidi kepada petani
Sehingga AEFB < S’SFE’
jadi pembelian pemerintah lebih mahal daripada subsidi kepada petani
8.2 Kebijaksanaan
penetapan harga eceran tertinggi (celling price)
PENGERTIAN CELLING PRICE
Price Ceiling
atau harga tertinggi adalah harga maksimum yang ditetapkan berkenaan dengan
menurunnya penawaran barang di pasar.Price Ceiling efektif dalam melindungi
konsumen dari gejolak harga yang tak terhingga.Pada price ceiling, harga
maksimum terdapat di bawah harga keseimbangan. Dengan menurunnya harga jual,
maka permintaan akan meningkat (hukum permintaan). Kondisi ini mendorong
permintaan terus bertambah, sehingga jumlah barang yang diminta lebih tinggi
dari barang yang ditawarkan (shortage).
Cara mengatasi shortage
1. Penjatahan dengan sistem kupon
Kebijakan ini menunjukan bahwa bukan hanya kekuatan uang
yang mampu menggerakan mekanisme pasar, tetapi uang dan kupon, sehingga
permintaan akan berkurang.
2. Pengeluaran stock persediaan beras
Persediaan yang diperoleh dari hasil pembelian pada waktu
panen dapat dikeluarkan pada saat seperti ini. Pemerintah dapat menjual
persediaan beras sehingga kekurangan permintaan dapat dipenuhi.
3. Impor
Untuk mengatasi kekurangan terhadap jumlah barang yang
diminta pemerintah dapat melakukan impor barang dari luar negeri, kebijakan ini
dapat dilakukan apabila kebijakan pemerintah dalam pembelian hasil yang
disimpan dalam bentuk stock tidak mencukupi.
8.3 Kombinasi kebijakan
floor price dan celling price
Pada dasarnya, floor
price dan ceiling price tidak dapat terjadi pada lokasi dan waktu yang
bersamaan.Dua kebijakan tersebut terjadi secara bertahap. Dimana pemerintah
akan mengeluarkan kebijakan floor price untuk melindungi produsen saat terjadi
kemerosotan harga yang dikarenakan kelebihan jumlah hasil produksi. Lalu saat
jumlah hasil produksi menurun, pemerintah menetapkan kebijakan ceiling price.
Dengan adanya kombinasi kebijakan floor price dan ceilling price yang dilakukan
oleh pemerintah, maka dapat menstabilkan perekonomian, selain itu antara
produsen dan konsumen tidak merasa dirugikan karena masing-masing mendapat
harga yang sesuai.
9. TEORI KONSUMEN
9.1 Teori konsumen dengan
pendekatan guna kardinal
Konsumen
Konsumen adalah pengguna barang atau jasa baik untuk
kepentingan diri sendiri dan atau kepentingan orang lain.
Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi
oleh beberapa faktor, sebagai contoh:
•
Pendapatan
•
Selera konsumen
•
Harga barang
Ciri-ciri pendekatan
kardinal
•
Dikatakan dalam
pendekatan kardinal, kepuasan seorang konsumen diukur
dengan satuan
kepuasan. Misalnya: uang.
•
Makin banyak yang
dikonsumsi, makin besar kepuasan konsumen tersebut.
•
Terjadi hukum The Law
of Deminishing Marginal Utility.
•
Tambahan kepuasan
untuk tambahan konsumsi 1 barang bisa dihargai dengan
uang.
Setiap penambahan
satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen
tersebut dalam jumlah tertentu.Semakin besar jumlah barang yang dapat
dikonsumsi maka semakin tinggi tingkat kepuasannya.Pendekatan guna kardinal
memiliki kelemahan berupa asumsi kepuasan seseorang itu tidak realis.
Karena kepuasan
masing – masing orang pada dasarnya adalah hal yang bersifat relatif.Namun
kelebihannya yang menonjol adalah mudahnya isi konsepsi pendekatan kardinal
untuk lebih dipahami: bahwa pendekatan kardinal mendahului uraian mengenai
teori konsumen yang menggunakan pendekatan ordinal.
KESEIMBANGAN KONSUMEN
Konsumen yang
rasional akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya pada tingkat pendaptan
yang dimilikinya.
Besarnya nilai
kepuasan akan sangat bergantung pada individu (konsumen) yang bersangkutan.
Konsumen dapat
mencapai kondisi equilibrium atau mencapai kepuasan yang maksimum apabila dalam
membelanjakan pendapatannya mencapai kepuasan yang sama pada berbagai barang.
Para ahli ekonom
mempercayai bahwa pendekatan kardinal utility merupakan ukuran
kebahagiaan seseorang.
Besar kecilnya
utility yang dicapai konsumen tergantung dari jenis barang atau jasa dan jumlah
barang atau jasa yang dikonsumsi
Sehingga dapat
ditunjukkan oleh fungsi sebagai berikut:
U = f ( X1, X2, X3, …
Xn)
Dimana “U” adalah
utility atau besar kecilnya kepuasan, sedangkan X adalah jenis & jumlah
barang yang dikonsumsi.
TINGKAT KEPUASAN
KONSUMEN TERDIRI DARI DUA KONSEP YAITU:
1.
Total utility
(kepuasan total) Kepuasan total adalah kepuasan menyeluruh
yang diterima oleh
individu dari mengkonsumsi sejumlah barang atau jasa
2.
Marginal utility
(kepuasan tambahan) Kepuasan tambahan adalah perubahan
total per unit dengan
adanya perubahan jumlah barang atau jasa yang
dikonsumsi.
PENDEKATAN KARDINAL
MEMPUNYAI 5 ASUMSI, YAITU:
•
Konsumsi
rasional.Artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan
pendapatannya.
•
Berlaku hukum
Diminishing Marginal Utility yaitu besarnya kepuasan marginal akan selalu
menurun dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.
•
Pendapatan konsumen
tetap yang artinya untuk memenuhi kepuasan kebutuhan konsumen dituntut untuk
mempunyai pekerjaan yang teteap supaya pendapatan mereka tetap jika salah satu
barang didalam pendekatan kardinal harganya melonjak
•
Uang mempunyai nilai
subyektif yang tetap yang artinya uang merupakan ukuran dari tingkat kepuasan
didalam pendekatan kardinal, semakin banyak konsumen mempunyai uang maka
semakin banyak mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka.
•
Total utility adalah
additive dan independen. Additive artinya daya guna dari sekumpulan barang
adalah fungsi dari kuantitas masing-masing barang yang dikonsumsi. Sedangkan
independent berarti bahwa daya guna X1 tidak dipengaruhi tindakan mengonsumsi
barang X2,X3,X4,……Xn dan sebaliknya.
9.2 Teori konsumen dengan
pendekatan ordinal
Karakteristik kurva indefferen :
1. Berlereng/ slope
negatif.
2. Cembung ke arah titik pusat.
3. Tidak saling berpotongan.
4. Semakin ke kanan menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
2. Cembung ke arah titik pusat.
3. Tidak saling berpotongan.
4. Semakin ke kanan menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
SIFAT–SIFAT KURVA INDIFERENS :
1.
Kurva Indiferens
merupakan fungsi kontinyu, bukan kumpulan titik – titik
diskrit, dan selalu melewati titik-titik kombinasi produk.
2.
Bentuk kurva
Indiferens memiliki slope negatif (menurun ke kanan) dan
cembung kearah titik pusat sumbu.
3.
Kurva Indiferens yang
terletak lebih jauh dari titik pusat menunjukkan
tingkat kepuasan total yang lebih tinggi, sehingga dua atau
lebih kurva
indiferens tidak akan berpotongan.
Kombinasi seorang konsumen dalam mengkonsumsi 2 macam produk
berbentuk cembung ke arah titik pusat sumbu dan menurun ke kanan.
Efek Pendapatan Dan
Efek Substitusi
Harga suatu produk
menimbulkan dua macam efek yaitu :
Efek Pendapatan
Kenaikan atau
penurunan harga yang menyebabkan naik atau turunnya pendapatan riil.
Efek Substitusi
Penggantian pilihan
terhadap barang lain akibat dari penurunan atau kenaikan harga barang.
10. TEORI PRODUKSI
10.1 Teori produksi dengan satu input yang
bersifat variable
A. Fungsi Produksi
Dalam
teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut
fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang
menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi
yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa
memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga
produk.
Produksi : Suatu kegiatan memproses input (faktor produksi)
menjadi suatu output.
Produsen dalam melakukan kegiatan produksi, mempunyai
landasan teknis, yang didalam teori ekonomi disebut “fungsi produksi”
Fungsi Produksi : suatu persamaan yang
menunjukan hubungan ketergantungan (fungsional) antara tingkat input yang
digunakan dalam proses produksi dengan tingkat output yang dihasilkan.
Fungsi produksi secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut
:
Q = f (K, L, R, T)
Q =
jumlah output (hasil produksi)
K =
modal (kapital)
L = tenaga kerja (labor)
R = kekayaan akan (raw material)
T = teknologi
Perlu diketahui bahwa teknologi tidak dianggap sebagai
faktor produksi
B. Produksi Dengan Satu
Input Variabel
Teori produksi yang sederhana menggambarkan hubungan antara
tingkat output yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang
digunakan untuk menghasilkan output tersebut.
Dalam analisis produksi dengan satu input variabel
diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap.
Sehingga fungsi produksi dengan satu input variabel : Q = f (L).
Fungsi Produksi dengan Satu Input Variabel Tunduk pada “Law
of Diminishing Return”.
Hukum hasil lebih yang semakin berkurang (the law of
diminishing return) menyatakan : bila satu macam input (labor) penggunaannya
terus ditambah sebanyak satu unit, sedangkan input-input yang lain konstan,
pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya. Tetapi sesudah
mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan tersebut semakin menurun dan
akhirnya mencapai nilai negatif. Keadaan ini akan menyebabkan produksi total
semakin lambat pertambahannya, akhirnya ia mencapai tingkat maksimum dan
kemudian menurun.
Tabel 1. Dibawah ini menunjukan sistem produksi dengan satu
input variabel dimana dimisalkan Y input faktor produksi modal (kapital) dan X
merupakan input faktor produksi variabel tenaga kerja. Dalam Tabel 1.
Dimisalkan perusahaan berproduksi dengan menggunakan sejumlah modal tertentu
misalnya Y = 2 (artinya Y konstan), dan input variabel tenaga kerja/labor X.
•
Produksi
Marginal
Tambahan produksi yang diakibatkan oleh pertambahan satu tenaga kerja yang
digunakan.
Rumus : MP = ∆TP/∆L
•
Produksi
rata-rata
produksi yang secara rata dihasilkan oleh setiap pekerja
Rumus : AP =TP/L
Hubungan antara Total
Product (TP), Marginal Product (MP) dan Average Product (AP) dapat digambarkan
secara grafik seperti pada gambar 1 berikut ini :
Kurva Total Product dan Marginal Product
Fungsi produksi
dengna satu input variabel (misal : tenaga kerja) tunduk pada hukum “the law of
deminishing return” yang menyatakan : Bila suatu macam input penggunaannya
terus ditambah sebanyak 1 unit, sedangkan input yang lain konstan, pada mulanya
Total Product akan semakin besar pertambahannya. Tetapi sesudah mencapai suatu
tingkat tertentu “produksi tambahan” semakin menurun hingga mencapai nol, dan
ini menyebabkn total product semakin lambat pertambahannya dan akhirnya ia (TP)
mencapai tingkat maksimum. Bila penambahan input terus dilanjutkan, maka MP-nya
akan menjadi negatif dan TP-nya.
A. Tahap- Tahap Produksi
Pada hakekatnya the
law of dimishing return menyatakan bahwa hubungan antara tingkat produksi dan
jumlah input tenaga kerja yang digunakan dapat dibedakan menjadi 3 tahap :
(1)Tahap Pertama :
Produksi Total (Total Product) mengalami pertambahan yang semakin cepat.
Tahap ini dimulai
dari titik origin semakin kesatu titik pada kurva total product dimana AP
(produksi rata-rata) maksimum, dan pada titik ini AP=MP (marginal product).
(2) Tahap Kedua :
Produksi Total (Total Product) pertambahannya semakin lama semakin
kecil.
Tahap II ini dimulai
dari titik AP maksimum sampai titik dimana MP=0, atau TP maksimum.
(3) Tahap Ketiga : Produksi total (total product) semakin lama
semakin menurun.
Tahap III ini
meliputi daerah dimana MP negatif.
· Inflection point
(titik belok) : yaitu titik dimana slope (lereng kurva total product (TP) mulai
berubahan.
· Faktor produksi tetap
(fixed input) : yaitu input faktor produksi yang jumlahnya tidak dapat dirubah
dengan segera mengikuti perubahan output. Contoh : Gedung, mesin, managerial,
dll.
· Faktor produksi
variabel (variabel input) : yaitu input yang dapat mengikuti perubahan jumlah
output yang dihasilkan.
B.
Tahap Produksi Paling
Efisien
1) Tahap
I menunjukan bahwa pada saat penggunaan input tenaga kerja (labor, L) masih
sedikit, bila dinaikan penggunaannya, maka produksi rata-rata (average product,
AP) naik dengan ditambahkannya input variabel. Dengan asumsi harga input
tenaga kerja (L) tetap, maka dengan naiknya produksi rata-rata (cost of
production per-unit) akan menurun dengan ditingkatkannya produksi (output).
Dalam pasar
persaingan sempurna (perfect competition), produsen tidak akan pernah
beroperasi (berhenti berproduksi) pada tahap I ini, karena dengan memperbesar
volume produksi, biaya produksinya perunit akan menurun, hal ini berarti akan
memperbesar keuntungan yang ia terima. Jadi pasa tahap I ini “efisiensi
produksi” belum maksimal.
2) Tahap III meliputi daerah dimana
produksi marginal (marginal product, MP) negatif. Pada tahap III ini penggunaan
input tenaga kerja (L) sudah terlalu banyak, sehingga produksi total (total
product, TP) justru akan menurun, jika penggunaan input tenaga kerja (L)
tersebut diperbesar, karena MP negatif (efisiensi produksi telah melampaui
kondisi maksimal).
3) Diantara
tahap I dan tahap III terdapat tahap II.
Maka berdasarkan pada
keadaan tahap I dan tahap III dapat disimpulkan bahwa “efisiensi produksi
maksimal” terjadi pada tahap II.
10.2 Teori produksi dengan dua input variable
Pengertian Teori
Produksi dengan Dua Input Variabel
Pengertian Teori
Produksi
Bagi kebanyakan
manajer perusahaan, persoalan produksi yang dihadapi adalah bagaimana
memproduksi suatu produk dengan komposisi yang paling menguntungkan Baik
komposisi input yang dipergunakan maupun komposisi jenis produk yang akan
dihasilkan. Untuk memaksimumkan profit, para manajer perusahaan harus
berorientasi pada usaha memproduksi secara efisien dengan beban biaya minimal.
Hal ini diartikan
sebagai upaya untuk secara terus menerus mencari dan menemukan metode rekayasa
memproduksi serta membandingkan metode yang dipakai dengan metode yang sudah
pernah digunakan oleh perusahaan sebelumnya.Dari perbandingan tersebut dipilih
suatu metode yang merupakan terbaik, dengan menghasilkan keuntungan tertinggi
bagi perusahaan.
Pada teori produksi
yang biasa dibahas dalam kebanyakan literatur ekonomi manajerial terdapat
berbagai macam metode pendekatan. Pendekatan yang pertama ialah pendekatan yang
menggunakan satu variabel input. Pendekatan kedua dikenal sebagai pendekatan
dua variabel input dan pendekatan ketiga adalah dengan pendekatan biaya total.
Pengertian Teori Produksi dengan Dua Input Variabel
Teori produksi dengan
dua input variabel, misalnya tenaga kerja (L) dan modal (K). Digunakan dalam
jangka pendek, dengan asumsi bahwa input K merupakan input tetap, sehingga
jumlah output yang dihasilkan hanya tergantung dari jumlah tenaga kerja (L)
yang digunakan. Teori produksi dua input variabel hanya memperhitungkan dua
macam input, dimana kerdua macam input ini saling dapat menggantikan kedudukan
penggunaannya dalam produksi. Artinya jika input yang satu dikurangi atau
ditambahkan maka akan dapat digantikan perannya dengan ditambahkan atau
dikurangi input yang lain.
Misalnya kita dapat
mencontohkan antara input tenaga kerja dan mesin. Antara tenaga kerja dan mesin
disini dapat saling mengganti peran dalam melaksanakan fungsi produksi. Kalau
tenaga kerja ingin ditambah maka konsekwensinya porsi mesin dapat
dikurangi.sebaiknya jika tenaga kerja yang ingin dikurangi maka konsekwensinya
harus menambah mesin sebagai penggantinya untuk mencapai target produksi
tertentu.
Pengertian Isoquant
Kurva isoquant adalah suatu kurva (garis) yang menghubungkan titik-titik
kombinasi input untuk menghasilkan tingkat output yang sama jumlahnya. Kurva
isoquant menunjukkan suatu tingkat output tertentu makin tinggi kurva isoquant
menunjukkan tingkat output yang makin besar pula. Sedangkan berbagai kumpulan
(himpunan) kurva isoquant yang mungkin dapat dicapai oleh produsen disebut
“petakurva isoquant” (isoquant curve map). Karakteristiknya antara lain:
1.
Memiliki slope
negative
2.
Cembung ke arah titik
pusat sumbu
3.
Dua atau lebih kurva
isoquant tidak akansaling berpotongan
4.
Semakin tinggi
menjauhi titik 0 menunjukan total produksi semakin tinggi
pula.
Pengertian Isocost
Kurva isocost adalah suatu garis yang menjelaskan gabungan penggunaan input
dengan sejumlah biaya tertentu. Sebagaimana diketahui bahwa isoquant merupakan
berbagai alternatif penggunaan input untuk manghasilkan output yang sama
jumlahnya. Namun sampai di situ masalah pemilihan berapa komposisi jumlah input
yang akan ditentukan belum bisa dipastikan. Sebab isoquanthanya membahas
berbagai alternatif dan kondisi objektif dari sifat kemampuan alamiah dari dua
input yang dipergunakan menghasilkan output. Karena pada alternatif mana saja
sepanjang isoquant hasilnya sama, yaitu jumlah output yang dihasilkan sama.
Pendekatan ini dikenal dengan istilah Isocost, yang diartikan sebagai komposisi
input atau kombinasi dua macam input yang akan dipergunakan untuk menghasilkan
output yang mampu dibiayai oleh perusahaan.
Keseimbangan Produsen
Seorang produsen berada dalam kondisi keseimbangan, apabila dengan sejumlah
pengeluaran (biaya) tertentu dapat menghasilkan output yang maksimal, atau
dengan kata lain untuk menghasilkan sejumlah output tertentu diperlukan biaya
minimal.
Dengan menggabungkan kurva isoquant dengan isocost dapat dia nalisa
keseimbangan produsen. Keseimbangan produsen ini terkait dengan penggunaan
input optimal. Penggunaan input optimal dapat dibedakan analisanya berupa
maksimasi output dan minimasi biaya. Keseimbangan produsen dicapai ketika kurva
isocost bersinggungan dengan isoquant.
10.3 Teori produksi Cobb-Douglas
Fungsi Produksi Cobb-Douglas
Fungsi ini sering disebut fungsi produksi eksponensial.
Bentuk umumnya juga sama, yakni Y = f (Xi) atau dapat ditulis dalam bentuk
spesifik Y = aXb, dimana Y adalah variabel yang dijelaskan, X adalah variabel
yang menjelaskan, dan a dan b adalah parameter yang diduga.
Kelebihan
Cobb- Douglas ini adalah pada pangkat menunjukan pangkat elastisitas produksi.
Sedangkan kelemahannya adalah dalam interpretasi perlu dilinierkan dengan
proses logaritma atau sering disebut dengan double log; log Y = log a + b log
X.
Dari empat bentuk fungsi produksi ini masih banyak bentuk
fungsi lainnya seperti fungsi produksi berikut ini :
1. Constant Elasticity of Substitutions (CES) ;
Y = [ò K-p + ( 1 – ò) L-p]-1/p
2. Transendental; Y AK1b1 ec1x1 x2b2 ec2x2
+ u
3. Translog; log Y = log b0 + b1 logX1 +
b2 logX2 + b3 (logX1 logX2) + u
4. Semi log; Y = b0 + b1 + b2 logX2
5. Log Invers atau log linier; log Y = b0
+ b1 X1 + b2 X2
Teori dasar pendekatan Cobb Douglas
Beberapa fungsi produktivitas dalam suatu perusahaan
sangatlah berperan penting dalam pengembangan produktivitas. Terutama untuk
menunjang proses produksi sehingga dapat memberikan beberapa peluang yang
diharapkan. Dalam dunia ekonomi, pendekatan Cobb-Douglas
merupakan bentuk fungsional dari fungsi produksi secara luas
digunakan untuk mewakili hubungan output untuk input. Hal ini diusulkan
oleh Knut Wicksell (1851-1926), dan diuji terhadap bukti statistik
oleh Charles Cobbdan Paul Douglas di 1900-1928.
Untuk produksi, fungsi dapat digunakan rumus :
Y = AL α K β , Y = K α
β AL,
Dimana:
·
Y = total
produksi (nilai moneter semua barang yang diproduksi dalam setahun)
·
L = tenaga
kerja input
·
K = modal input
·
A = produktivitas
faktor total
·
α dan β
adalah elastisitas output dari tenaga kerja dan modal, masing-masing.
Nilai-nilai konstan ditentukan oleh teknologi yang tersedia.
Output elastisitas mengukur respons output oleh perubahan
tingkat baik tenaga kerja atau modal yang digunakan dalam
produksi, ceteris paribus. Sebagai contoh jika α = 0,15, peningkatan 1%
tenaga kerja akan mengakibatkan kenaikan sekitar 0,15% pada output.
Selanjutnya, jika:
α + β = 1, α + β = 1,
Fungsi produksi memiliki skala hasil
konstan .Artinya, jika L dan K masing-masing meningkat sebesar 20%,
kenaikan Y sebesar 20%.Jika :
α + β < 1, α + β <1,
Kembali ke skala yang menurun, dan jika :
α + β > 1 α + β> 1
kembali ke skala yang meningkat. Dengan
asumsi persaingan sempurna dan α + β = 1, α dan β dapat ditunjukkan
untuk menjadi tenaga kerja dan modal pangsa output.
Cobb dan Douglas dipengaruhi oleh bukti statistik yang
muncul untuk menunjukkan bahwa tenaga kerja dan modal saham dari total output
yang konstan dari waktu ke waktu di negara maju, mereka menjelaskan hal ini
dengan statistik fitting -kuadrat regresi fungsi produksi mereka.
Saat ini sudah ada keraguan mengenai apakah keteguhan dari waktu ke waktu ada.
Pengukuran Produktivitas dengan Pendekatan Cobb-Douglas
Sebelum melakukan pengukuran produktivitas pada semua
sistem, terlebih dahulu harus dirumuskan secara jelas output apa saja
yang diharapkan dari sistem itu dan sumber daya (input) apa saja yang akan
digunakan dalam proses sistem tersebut untuk menghasilkan output.
Salah satu model pengukuran produktivitas yang sering
digunakan adalah pengukuran berdasarkan pendekatan fungsi produksi
Cobb-Douglas, yaitu suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua variabel
atau lebih, variabel yang satu disebut variabel independent (Y) dan
yang lain disebut variabel dependent (X).
Kelebihan dari fungsi produksi Cobb-Douglas:
1.
Bentuk fungsi produksi Cobb-Douglas bersifat sederhana
dan mudah
penerapannya.
2.
Fungsi produksi
Cobb-Douglas mampu menggambarkan keadaan skala hasil
(return to scale), apakah sedang meningkat, tetap atau
menurun.
3.
Koefisien-koefisien
fungsi produksi Cobb-Douglas secara langsung menggambarkan elastisitas produksi
dari setiap input yang digunakan dan dipertimbangkan untuk dikaji
dalam fungsi produksi Cobb-Douglas itu.
4.
Koefisien intersep
dari fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan indeks efisiensi produksi yang
secara langsung menggambarkan efisiensi penggunaan input dalam
menghasilkan output dari sistem produksi yang dikaji
Kekurangan dari
fungsi produksi Cobb-Douglas:
1.
Spesifikasi variabel yang keliru akan menghasilkan elastisitas
produksi yang negatif atau nilainya terlalu besar atau terlalu kecil.
2.
Kesalahan pengukuran variabel ini terletak pada validitas
data, apakah data yang dipakai sudah benar, terlalu ekstrim ke atas atau
sebaliknya. Kesalahan pengukuran ini akan menyebabkan besaran elastisitas
menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah.
3.
Dalam praktek, faktor manajemen merupakan faktor yang
juga penting untuk meningkatkan produksi, tetapi variabel ini kadang-kadang
terlalu sulit diukur dan dipakai dalam variabel independentdalam pendugaan
fungsi produksi Cobb-Douglas.
Bentuk umum fungsi produksi Cobb-Douglas adalah:
Q = δ.I α
Keterangan: Q = Output
I =
Jenis input yang digunakan dalam proses produksi dan dipertimbangkan
untuk dikaji
δ = indeks efisiensi
penggunaan input dalam menghasilkanoutput
α = elastisitas produksi
dari input yang digunakan
Berikut beberapa analisa mengenai pendekatan cobb douglas :
1. Mentransformasi Persamaan Regresi Linier
Sebelum data dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut,
data-data yang diperoleh harus terlebih dulu ditransformasikan ke dalam bentuk
Logaritma Natural (Ln). Kemudian data-data dalam bentuk Logaritma Natural
tersebut diolah kembali untuk mendapatkan persamaan regresi Y = a + bX, atau
dikembalikan pada variabel aslinya dengan Y = Ln Q dan X = Ln I. Maka persamaan
regresi menjadi Ln Q = a + b(Ln I). Selanjutnya regresi linier tersebut
ditransformasikan ke dalam fungsi produksi Cobb-Douglas, dengan langkah:
Ln Q = a + b(Ln I)
Ln Q = a + Ln Ib
Ln Q – Ln Ib = a
Q = eaIb
Dengan demikian persamaan Cobb-Douglas telah didapat dengan
eamerupakan indeks efisiensi dari proses transformasi, serta a dan b
merupakan elastisitas produksi dari input yang digunakan
2. Analisa Efisiensi Proses Produksi
Efisiensi merupakan penggunaan input yang
sekecil-kecilnya untuk mendapatkan jumlah produksi sebesar-besarnya tanpa
melupakan kualitas dari produk yang dihasilkan. Efisiensi proses produksi dapat
dilihat dari koefisien intersep fungsi produksi Cobb-Douglas, yaitu:
Indeks efisiensi = ea
Keterangan: e = 2,71828
a = koefisien intersep persamaan regresi
Indeks efisiensi akan didapat dari perhitungan, dengan
semakin tinggi indeks efisiensi produksi berarti proses
transformasi input menjadi outputmenjadi semakin efisien. Selain
indeks efisiensi, rasio efisiensi juga akan didapat dari perhitungan. Rasio
efisiensi menunjukkan perbandingan kemampuan
menghasilkan output dengan memakai input yang tersedia.
3. Return to Scale
Berdasarkan persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas, terdapat
tiga situasi yang mungkin dalam tingkat pengembalian terhadap skala (Browning
dan Browning, 1989).
1.
Jika kenaikan yang
proporsional dalam semua input sama dengan kenaikan yang proporsional
dalam output (εp = 1), maka tingkat pengembalian terhadap skala
konstan (constant returns to scale).
2.
Jika kenaikan yang
proporsional dalam output kemungkinan lebih besar daripada kenaikan
dalam input (εp > 1), maka tingkat pengembalian terhadap skala
meningkat (increasing returns to scale).
3.
Jika
kenaikan output lebih kecil dari proporsi
kenaikan input (εp < 1), maka tingkat pengembalian terhadap skala
menurun (decreasing returns to scale).
4. Elastisitas Produksi ParsialElastisitas produksi parsial berkenaan dengan input tertentu merupakan
ukuran perubahan proporsional pada input-nya ketika inputlainnya
konstan. Sebelum elastisitas produksi parsial dapat dihitung, terlebih dahulu
dicari nilai Total Physical Product, Average Physical
Product, dan Marginal Physical Product.
Total Physical
Product (TPP) dianggap sebagai hubungan teknis antara satu variabel faktor
produksi (input) dan output dapat ditunjukkan oleh suatu fungsi
produksi yang secara matematis dapat ditulis (Sudarman, 1989) .
Langganan:
Komentar (Atom)